Warung Sate Hiu?

Image
warung makan yang menyediakan menu sate hiu, berada di belakang kantor bupati Pati

warung ini dijumpai di belakang kantor bupati Pati. unik memang, hiu adalah salah satu hewan yang dilindungi keberadaannya. letak warung yang berada di belakang persis kantor bupati Pati dan memasang poster besar yang bertuliskan “Ada Hiu di sini, Menu Spektakuler SATE HIU” yang seolah – olah melegalkan keberadaan warung ini.

tidak adanya kontrol masyarakat beserta pemerintah terhadap warung seperti ini bisa meningkatkan risiko  kepunahan hiu. hiu dikategorikan sebagai daftar merah hewan terancam punah (IUCN, 2006). hal ini merujuk bahwa antara tahun 1900 hingga 2000-an terjadi 99% degradasi jumlah populasi hiu di seluruh dunia. oleh sebab itu, banyak kampanye yang dilakukan oleh masyarakat peduli lingkungan hidup untuk menyelamatkan keberadaan hiu yang menjadi bagian penting ekosistem perairan.

adanya warung makan ini merupakan antiklimaks bagi konservasi di Indonesia. Indonesia yang sedang serius menggalakkan upaya konservasi bisa saja dianggap gagal karena keberadaan hal seperti ini. bagaimana menurut anda tentang keberadaan warung seperti ini?

(N)

kodok, katak, dan fungsinya terhadap ekosistem

Sebagian orang, terutama kaum hawa, akan menjerit-jerit jijik saat berpapasan dengan satwa satu ini. Sebagian besar yang lain tidak akan mempedulikannya. Rupa dan bentuknya yang terkesan buruk, penuh tonjolan dan kadang berbau, membuatnya jarang dilirik. Mereka dan dunianya banyak diremehkan. Walaupun sebenarnya hal ini hanya dikarenakan oleh kekurang tahuan kita tentang mereka. Satwa yang biasa kita sebut kodok ini memang kurang menarik untuk ditangkap dan dibelai seperti layaknya anjing atau kucing. Seringkali dalam perjalanan hidupnya pun diiringi oleh berbagai mitos turun temurun, seperti air seninya menyebabkan kebutaan, memegangnya dapat menyebabkan penyakit kulit dan mereka beracun.

Apa yang sebenarnya kita tahu tentang kodok? Dan apa bedanya dengan katak? Mari kita lihat,

Inilah yang paling sering berada di pikiran sebagian besar orang. Setiap kali terdengar kata kodok, pikiran kita akan tertuju pada satwa buruk rupa ini. Kulitnya dipenuhi bintil-bintil kasar seperti kutil, membuatnya Nampak tidak cantik sama sekali. Terkadang tubuhnya juga mengeluarkan bau kurang sedap. Benar, dialah yang kita sebut kodok (toads). Keluarga kodok biasanya berasal dari famili Bufonidae. Hampir seluruh jenis memiliki ‘kutil’ pada tubuhnya. Kodok ini mudah dijumpai dimana saja. Mulai dari pemukiman warga, perkotaan, sungai dengan kondisi air kotor sekalipun, bahkan hingga tempat dengan ketinggian tertentu. Bisa dikatakan jenis ini mudah beradaptasi dan tahan terhadap disturbansi disekitarnya. Kaki mereka relative pendek sehingga pergerakannya tidak setinggi katak.

Image

Lalu satwa mana yang bisa kita panggil katak? Yah, selain para ‘buruk rupa’ inilah yang bisa kita sebut katak (frogs). Tubuh katak relative halus, tidak memiliki bintil-bintil yang jelas seperti kodok. Sebagian besar bertubuh ramping (walaupun ada yang agak gemuk sampai gemuk namun berbeda dari kodok). Kaki katak juga relative panjang sehingga memungkinkan katak meloncat jauh. Katak memiliki banyak jenis yang masing-masing jenisnya mendiami suatu habitat tertentu. Sebagai contoh katak sawah yang mendiami lokasi-lokasi berlumpur seperti sawah maupun lokasi berlumpur lain, katak pohon yang mendiami batang-batang pohon tinggi dan seringkali bersembunyi di balik dedaunan, atau bangkong tuli yang biasanya hanya dapat dijumpai di sela-sela batuan pada sumber air yang masih bersih dan belum tercemar di daerah pegunungan. Masih banyak karakter katak yang lain dalam mendiami suatu wilayah tertentu. Keseluruhannya memiliki keunikannya masing-masing.

Setelah mengetahui sedikit mengenai katak dan kodok, terkadang kita masih bertanya-tanya kenapa satwa ‘remeh’ seperti mereka penting untuk diperhatikan? Toh tanpa mereka pun kita masih bisa hidup. Kehilangan mereka juga tidak akan mempengaruhi aktivitas kita. Yaaa itulah yang seringkali kita lupa dan remehkan. Seorang ahli bernama C. Kenneth Dodd, JR. dalam bukunya berjudul Amphibian Ecology and Conservation menyitir pernyataan ahli lain bernama Noss dan Cooperrider (1994) dan Groom dkk (2006) yang menyatakan bahwa alasan kita harus kuatir jika suatu jenis satwa hilang yakni berkaitan dengan empat  fungsi antara lain estetika (bagaimana katak dan kodok menjadi bagian dalam harmoni kehidupan alam terlebih saat hujan), etik (nilai lebih satwa tersebut dan kaitannya dengan hak mereka untuk tetap eksis), ekonomi (katak dan kodok seringkali menjadi bahan makanan, bahkan bagian tubuh tertentu terkadang di ambil sebagai obat untuk manusia), serta fungsi ekosistem. Fungsi ekosistem inilah yang tidak terlalu Nampak oleh mata kita namun jika terabaikan maka dampaknya akan lebih ‘parah’ dibandingkan yang lain. Katak dan kodok memiliki peranan dalam aliran energy dan siklus nutrient, mereka menempati posisi baik sebagai pemangsa maupun yang dimangsa. Apa jadinya jika mereka tidak ada, serentetan efek akan muncul seperti berkurangnya jumlah satwa yang menjadi pemangsa, ataupun melonjaknya jumlah mangsa mereka. Hal ini akan berdampak pada peristiwa-peristiwa lain (melonjaknya jumlah nyamuk, lalat, atau serangga hama yang mengganggu tanaman pertanian)- tentunya dapat mengganggu kehidupan kita, manusia. Tidak dapat dibayangkan jika ketimpangan-ketimpangan tersebut terjadi, bukankah kita hidup harus selalu seimbang, kawan?

Beberapa katak unik -paling tidak menurut kami- yang pernah kami jumpai di berbagai daerah di bumi Indonesia.

Image

Image

katak terkecil

Katak terkecil – dengan nama latin Philautus aurifasciatus, katak ini tidak memiliki fase berudu. Dari telurnya akan langsung muncul katak kecil. Dewasanya pun berukuran sangat kecil, meskipun demikian suara yang mereka keluarkan akan sangat nyaring. Jenis katak ini, pernah kami jumpai paling kecil berukuran 0,47 cm.

Image

katak bertanduk

Katak bertanduk – memiliki nama latin Megophrys montana. Mulutnya runcing dan pada kedua matanya terdapat perpanjangan bagian tubuh sehingga menyerupai tanduk. Karena ‘tanduk’ nya inilah beberapa kelompok masyarakat kadang takut karena dikira penjelmaan makhluk gaib.

Image

katak pohon jawa

Katak pohon Jawa – nama latinnya Rhacophorus javanus. Katak ini merupakan katak yang hanya dapat dijumpai di pulau Jawa (endemik). Tubuhnya relative ramping, matanya seperti sedang mengantuk, dengan kakinya yang berselaput Ia mendiami pepohonan di hutan-hutan pegunungan.

Berkurangnya luasan habitat katak dan kodok seringkali menjadi faktor utama terjadinya penurunan populasi dan bahkan yang lebih ekstrim yakni kepunahan. Jika suatu saat nanti mereka sudah tidak dapat kita jumpai dimanapun (punah), dan penyebabnya adalah perbuatan kita sendiri, bukankah itu tidak adil bagi mereka, kawan? Mari kita jaga keberadaan mereka dengan menjaga lingkungan sekitar kita.

ditulis oleh:

Satiti Diah 

satitidiah@gmail.com

Sekilas tentang Kecoa

kecoak

Mungkin semua orang sudah tidak asing dengan binatang yang bernama kecoa. Kecoa adalah salah satu jenis serangga yang dianggap mengganggu dan menjijikkan bagi sebagian orang.

Kecoa, termasuk ke dalam ordo Blattodea. Terdiri dari enam familia yaitu, Blaberidae, Blattellidae, Blattidae, Cryptoceridae, Polyphagidae, dan Nocticolidae. Sedangkan untuk jumlah spesiesnya sudah lebih dari 4000 spesies yang sudah teridentifikasi.

Morfologi dari kecoa yaitu, berwarna cokelat, bentuk badan menyerupai perahu, kepala bulat agak masuk ke dalam, tubuh pipih, sungut (antena) panjang, memiliki sayap, tiga pasang kaki yang ditumbuhi duri, dan terdapat sepasang tanduk kecil di belakang tubuhnya.

Kecoa hidup di tempat – tempat yang lembab, kotor, dan di sekitar benda atau ruangan yang berbau tajam (wangi/busuk). Beberapa spesies kecoa, memang menjadi kurir bakteri yang merugikan manusia. Beberapa bakteri yang dibawa kecoa yaitu Salmonella dan E. coli yang menjadi penyebab masalah pencernaan.
Kecoa merupakan spesies yang sangat “tahan banting’. Dikatakan tahan banting karena kecoa memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi terhadap lingkungan. Karena adaptasi yang tinggi, kecoa yang dianggap sebagai binatang purba mampu bertahan hidup hingga zaman modern.

Tetapi, dibalik kerugian yang ditimbulkan oleh kecoa ternyata ada juga manfaat yang diberikan kecoa dalam kehidupan dan ekosistem tempat hidupnya. Kecoa adalah binatang perombak bahan organik. Sisa – sisa makanan, kotoran, dan bahan – bahan organik lain diuraikan oleh kecoa agar mudah dibusukkan oleh bakteri sehingga mampu dimanfaatkan oleh organisme lain sebagai penyuplai kebutuhan hidup. Bayangkan jika tak ada kecoa? Mungkin saat ini bumi sudah dipenuhi sampah dan kotoran. Selain perombak bahan organik, kecoa juga berperan penting dalam rantai makanan. Kecoa menjadi makanan bagi burung, kadal, maupun binatang pemakan serangga yang lainnya.

Ternyata, binatang yang dianggap sebagian manusia sebagai binatang yang menjijikkan memiliki manfaat yang penting secara ekologis bagi makhluk hidup.

Sekilas Mengenai Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa disebut juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.

Ilmu yang mempelajari ekosistem disebut ekologi. Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikos dan logos. Oikos artinya rumah atau tempat tinggal, dan logos artinya ilmu. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834-1914). Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya.

Ekologi mempelajari tiga hal, antara lain:

  1. Perpindahan energi dan materi dari makhluk hidup satu ke makhluk hidup yang lain ke dalam lingkungannya dan faktor-faktor yang menyebabkannya.
  2. Perubahan populasi atau spesies pada waktu yang berbeda dalam faktor-faktor yang menyebabkannya.
  3. Terjadi hubungan antarspesies (interaksi antarspesies) makhluk hidup dan hubungan antara makhluk hidupdengan lingkungannya.

Adapun komponen penyusun ekosistem adalah komponen biotik dan abiotik. Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral, dan oksigen yang terlarut di dalam air.

Orang – orangan Sawah dalam Filosofi Masyarakat Samin

 

Ilustrasi Orang - orangan sawah

Orang – orangan sawah adalah boneka atau tumpukan jerami yang dibentuk menyerupai manusia dan dipasang di pinggiran sawah. Fungsi dari orang – orangan sawah adalah untuk mengusir burung yang suka memakan padi di lahan pertanian (sawah). Entah bermula dari kapan dan siapa yang memiliki ide tentang memasang orang – orangan sawah untuk mengusir burung dari lahan sawah. Tetapi kini keberadaan orang – orangan sawah mulai tergusur oleh jaring untuk mengusir burung dari sawah para petani.

Bagi Masyarakat Samin, orang – orangan sawah tidak sekedar boneka untuk mengusir burung. Orang – orangan sawah memiliki filosofi yang mendalam pada hubungan manusia dengan makhluk hidup. Orang – orangan sawah adalah simbol bahwa mengusir burung perlu dengan kasih sayang. Mereka menilai, baik manusia dan burung adalah sama – sama makhluk hidup yang saling memberikan keuntungan satu sama lain, dan sebagai sesama makhluk hidup memiliki hak hidup dan menikmati bumi yang sama. Sesuai prinsip hidup mereka yaitu “tanah untuk hidup bersama, air milik bersama, dan kayu milik bersama”. Prinsip hidup inilah yang mendasari masyarakat Samin untuk dapat hidup berdampingan dengan makhluk hidup lain tanpa harus menyakiti.

Oleh karena itu, masyarakat Samin tetap menggunakan orang – orangan sawah dalam menghalau burung yang suka memakan padi mereka daripada menggunakan jaring  seperti yang dilakukan petani modern. Menurut mereka, apabila mereka gunakan jaring untuk menghalau burung, itu akan menyakiti burung. Burung yang tersangkut di jaring akan mengalami luka dan bisa berakibat kematian. Apabila burung – burung di sekitar sawah hilang, maka justru sawah mereka akan terancam rusak oleh hal lain seperti tikus dan bisa mengganggu kestabilan rantai makanan di sekitar sawah, dan yang juga tak kalah penting, suara burung – burung juga sebagai penghibur mereka di kala sedang bekerja di sawah.

Sekilas Mengenai Orangutan

di Dunia tepatnya di Indonesia. ada dua jenis spesies Orangutan. yaitu Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan. Orangutan Sumatera memiliki nama latin Pongo abelii berwarna rambut cokelat kekuningan dan umumnya rambutnya tebal dan panjang. orangutan Sumatera yang memiliki nama daerah “Mawas”. pada jantan memiliki kantung suara yang jika dilihat berbentuk gelambir di lehernya. berat dan ukuran orangutan Sumatera jantan dewasa duakali lebih besar daripada betinanya. habitat orangutan Sumatera yaitu hutan tropis dataran rendah, rawa2 sampai hutan perbukitan 1500 mdpl. distribusi/persebaran orangutan Sumatera berada di sekitar Sumatera Utara hingga Aceh, tetapi juga ada di beberapa wilayah Sumatera Barat dan Riau.

Menurut CITES (2001), orangutan Sumatera masuk ke dalam status Appendix I, sedangkan menurut IUCN (2002) statusnya masuk ke dalam kritis. status Appendix I dalam CITES memiliki arti “spesies hidupan liar yang tidak boleh diperdagangkan secara internasional”. sedangkan status Kritis (Critically Endangered) dalam status IUCN yaitu “spesies dengan risiko kepunahan sangat tinggi”.

spesies orangutan yang kedua yaitu Orangutan Kalimantan yang memiliki nama latin Pongo pygmaeus. berbeda dengan orangutan Sumatera, orangutan Kalimantan memiliki warna rambut cokelat tua dan rambutnya lebih pendek. dalam berat dan ukuran, orangutan Kalimantan dan Sumatera memiliki kesamaan. yaitu, jantan dewasa duakali lebih besar daripada betina dewasa. habitat orangutan Kalimantan yaitu hutan tropis dataran rendah, rawa2, sampai hutan perbukitan di pulau Kalimantan.

Menurut CITES (2001), orangutan Kalimantan masuk ke dalam status Appendix I, sedangkan menurut IUCN (2002) statusnya termasuk “genting”. status “Genting” (Endangered) dalam IUCN adalah “spesies yang menghadapi risiko kepunahan sangat tinggi dalam waktu dekat”. dua jenis spesies orangutan (Sumatera dan Kalimantan) ini termasuk SATWA YANG DILINDUNGI UNDANG – UNDANG. Undang – undang yang melindungi yaitu UU RI NO 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI NO 7 Tahun 1999.

ancaman yang mengintai kelestarian orangutan adalah perburuan, perdagangan, degradasi hutan, dan fragmentasi habitat. sedangkan bagian tubuh yang diperdagangkan dari orangutan di pasar ilegal adalah seluruh tubuh (untuk pet animal) dan tengkorak. dalam beberapa kasus, orangutan diburu karena dianggap hama pada lahan sawit. padahal, dulunya lahan tersebut adalah habitat mereka. masuknya orangutan ke dalam status genting dan kritis pada IUCN merupakan pertanda bahwa populasi mereka semakin sedikit di alam liar. kebakaran hutan, alih fungsi lahan hutan, dan konflik dengan manusia akhir2 ini adl penyebab berkurangnya populasi orangutan di alam liar. padahal, ekosistem adalah suatu kesatuan. kehilangan salah satu komponennya akan berakibat kehancuran ekosistem tersebut, dan jika ekosistem tersebut rusak, manusia pula yang menghadapi masalah besar. perburuan orangutan untuk kepentingan sesaat adalah kerugian. karena setiap makhluk hidup pasti memiliki peran dan fungsi masing – masing di dalam ekosistem. jadi, apakah kita akan terus berdiam diri atas berkurangnya populasi orangutan , membiarkannya punah dan menghadapi kehancuran ekosistem?

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.